You are currently viewing Kisah Hidup Vampir

Kisah Hidup Vampir

ada jaman dahulu di sebuah bukit, terdapat satu desa yg penduduknya sangat makmur. Hasil bumi dan ternaknya sangat melimpah. Penduduk desa itu hidup rukun dan bahagia, mereka juga saling tolong menolong dalam kesulitan.

Di desa itu tinggallah sepasang suami istri. Istrinya bernama Ra dan suaminya bernama Ru. Mereka berdua adalah bintang di desa tempat tinggal masing-masing, karena sebelum menikah, mereka berdua tinggal di desa yang berbeda. Ibu Ra bertubuh langsing dan tinggi semampai, kulitnya juga putih bersih seperti sutra. Sedangkan Bapak Ru adalah pemuda yang tampan dan gagah.

Tak heran ketika mereka berdua menikah, banyak pemuda dan pemudi di desa masing-masing merasa patah hati. Meskipun telah menikah dan setiap hari harus berkerja di ladang dan mengurus ternak, namun ketampanan dan kecantikan mereka tidak pudar.  Mereka belum juga dikaruniai anak meskipun mereka sudah lama menikah.

Setiap hari mereka berdoa agar Tuhan Semesta Alam sudi menitipkan seorang anak pada mereka. Walaupun belum dikaruniai anak mereka tetap bahagia dan semangat untuk menjalani hidup. Mereka tetep semangat mengurus ladang dan ternak mereka. Bahkan mereka menjadi contoh teladan bagi penduduk desa dan desa sekitar mereka juga. Kebahagiaan mereka menular ke seluruh penduduk desa.

Seluruh penduduk desa hanya mempunyai nama dengan 2 huruf saja, seperti nama ibu Ra dan bapak Ru, walaupun mereka mempunyai nama keluarga di depan nama masing-masing

***

Suatu hari Ibu Ra merasa badannya sangat lemas, kepalanya berat dan perutnya mual. Belum ada dokter, bidan atau perawat kala itu, yg ada hanyalah dukun. Sebagai suami, Bapak Ru segera memanggil dukun untuk memeriksanya. Setelah memeriksa Ibu Ra, dukun itu membawa kabar bahagia. Ibu Ra tdk sakit, ternyata Ibu Ra sedang hamil. Betapa senangnya hati pasangan tersebut mendengar kabar bahwa mereka akan segera mempunyai anak.

Sejak saat itu, Bapak Ru melarang Ibu Ra untuk melakukan pekerjaan yang berat-berat. Ibu Ra tidak lagi pergi ke ladang ataupun mencari rumput untuk makan ternaknya. Ibu Ra menghabiskan waktunya untuk menyulam baju-baju untuk anaknya. Sedangkan bapak Ru bekerja keras untuk bekal anaknya kelak. Tak kenal waktu dan lelah Bapak Ru bekerja sangat keras. Dia hampir tidak memperdulikan kondisi dirinya yg seringkali kelelahan dan lupa makan

***

Setelah penantian yg dirasa amat panjang, saat kelahiran bayi dlm kandungan Ibu Ra tiba.

Suatu malam, Ibu Ra merasa perutnya sangat mulas. Bapak Ru yang panik segera lari mencari pertolongan ke tetangganya. Atas saran tetangganya, Pak Ru bergegas menjemput dukun desa utk menolong persalinan istrinya.

Suara tangisan bayi akhirnya memecah keheningan malam. Seorang bayi laki-laki lahir dari rahim Ibu Ra. Bayi mungil yang berparas tampan dan berkulit putih. Bayi itu diberi nama Ri

Pasangan Bapak Ru dan Ibu Ra tampak sangat berbahagia, tak terkecuali tetangga yang datang untuk menolong.

Seharian tamu datang silih berganti untuk melihat bayi mungil nan tampan yang baru saja dilahirkan. Kebahagiaan menyelimuti seluruh keluarga dan tamu yang datang, seolah bayi Ri menyebarkan aura kebahagiaan ke seluruh penjuru desa.

***

Ternyata kesempurnaan kebahagiaan itu tidak berlangsung lama. Keesokan pagi nya seorang tetangga lari tergopoh-gopoh menuju ke rumah Ibu Ra…

“Ibu Ra… Ibu Ra…. Tolong bapak bu…”

“Tolong… Tolong… Tolong….”

Teriakan tetangga itu mengagetkan seluruh penduduk desa. Ibu Ra dan penduduk desa berlari mengikuti tetangga yang berteriak tadi.

Ibu Ra berlari menghampiri tubuh Pak Ru yang sudah terbujur di depan pagar kandang dompa peliharaan mereka. Ibu Ra menangis sambil mengguncang-guncang tubuh Pak Ru.

“Bapak…. bangun pak… bangun…”

“Nam Ru…. Wake up…. Please…”

“You promise not to leave me alone…”

Dengan air mata yang mengalir deras di pipinya, Ibu Ra terus mengguncang-guncang tubuh Bapak Ru sambal memanggil nama lengkap suaminya itu. Seolah-olah dengan begitu Bapak Ru akan bangun kembali…

Tetangga-tetangga yang melihat memberi ruang dan sedikit waktu bagi Bu Ra untuk memeluk Bapak Ru, sebelum bersama-sama mengangkat tubuh Bapak Ru ke dalam rumah.

Tidak ada yang tahu apa sebenarnya penyebab kematian Pak Ru. Dukun desa juga cuma mengatakan kalau Pak Ru kecapaian. Pak Ru bekerja sangat keras sejak Bu Ra hamil, tanpa memperhatikan kondisi dirinya dan kesehatannya.

***

Prosesi pemakaman sudah selesai dilaksanakan. Tinggallah Ibu Ra berdua bersama bayi Ri.

Sambil menggendong bayi Ri, Ibu Ra berbicara, seolah-olah berbicara dengan suaminya…

“Bapak… kenapa bapak ninggalin ibu dengan cara seperti ini…”

“Bapak… apa ibu sanggup membesarkan anak kita sendirian…”

“Bapak… ibu mau ikut bapak…”

Sungguh hancur hati Ibu Ru sepeninggal Bapak Ru… Hidupnya terasa sangat berat. Akan tetapi, semangatnya Kembali menyala ketika melihat bayi Ri.

Ibu Ra mendekap erat bayi Ri sambal mengucapkan janji…

“Bapak…aku akan sekuat tenaga membesarkan anak kita…”

“Aku akan berusaha meskipun harus membesarkannya seorang diri…”

“Aku tidak akan meninggalkannya bapak…aku janji…”

***

Sepeninggal Pak Ru, Ibu Ra hanya tinggal bersama Ri. Setiap pagi Ibu Ra menyiapkan Ri untuk diajak ke lahan. Diletakkannya bayi Ri di keranjang, kemudian digendongnya di punggungnya. Ri akan menangis sangat kencang kalau Ri merasa lapar. Jika sudah seperti itu, Ibu Ra akan segera menggendong Ri dan menyusuinya. Ri akan menyusu dengan sangat lahap dan lama seperti bayi yang sangat kelaparan.

Selesai mengerjakan pekerjaan di ladang, dengan membawa rumput di punggung dan Ri di gendongan depan, Ibu Ra memberi makan ternak-ternaknya.

Setelah senja tiba, barulah ibu Ra menyelesaikan seluruh pekerjaannya, mulai dari ke ladang, memberi makan ternak-ternak, hingga mengerjakan pekerjaan rumah dan mengurus Ri.

Setelah seluruh pekerjaan selesai, biasanya Ibu Ra menyusui Ri kemudian membersihkan dengan menyeka seluruh badan Ri dengan kain hangat dan memakaikan baju hangat. Setelah itu Ri pasti akan tertidur lelap.

Ibu Ra baru akan ke kamar mandi untuk membersihkan badan setelah Ri tertidur lelap. Setelah badannya bersih dan segar, Ibu Ra akan menyusul Ri untuk beristirahat.

Setiap tengah malam, Ri akan menangis berteriak-teriak karena lapar. Ibu Ra akan segera terbangun dan menyusui Ri. Sedangkan Ri akan menyusu dengan lahap dan lama.

***

Hari berganti hari, bulan berganti bulan… Ibu Ra akhirnya menyadari kalau Ri tumbuh menjadi anak yang berbeda dengan anak pada umumnya. Ri tidak bisa bicara, Ri tidak bisa berjalan, Ri bahkan tidak punya perasaan. Ri hanya selalu merasa lapar dan berteriak-teriak jika merasa lapar.

Ibu Ra menyadari bahwa sejak bayi, Ri tidak pernah menangis. Ri tidak pernah mengeluarkan air mata. Ri hanya berteriak, mengeluarkan suara sangat keras yang tidak ada artinya, mengeluarkan suara seperti suara hewan jika merasa lapar. Setiap hari, Ri selalu terbangun dan berteriak-teriak kelaparan saat tengah malam. Ri tidak suka cahaya, apalagi cahaya matahari. Dia akan marah dan berteriak-teriak bila melihat cahaya. Ri tumbuh seperti vampir

Karena kuatir akan mencelakai tetangga-tetangga dan menjadi bahan ejekan tetangga, akhirnya ibu Ra memutuskan untuk mengurung Ri di kamar bawah tanah rumahnya. Disiapkannya jerami untuk tempat tidur dan selimut yang hangat untuk Ri supaya Ri tidak kedinginan.

Setiap pagi, sebelum matahari terbit, Ibu Ra selalu memerah susu sapi atau kambing dan dibawanya 1 ember susu ke ruang tempat Ri berada, agar diminum oleh Ri.

***

Lama kelamaan susu 1 ember tidak cukup untuk membuat Ri kenyang. Ibu Ra akhirnya memberikan ayam mentah pada Ri, karena Ri tidak akan mau makan jika sudah dimasak. Setiap pagi, siang dan tengah malam Ibu Ra akan memberikan ayam mentah kepada Ri.

Beberapa minggu berlalu, ayam pun akhirnya tak cukup untuk membuat Ri kenyang. Ri selalu kembali berteriak-teriak tidak lama setelah ayam selesai dilahapnya. untuk minum, Ibu Ra sudah mengalirkan air sumur ke dalam ember yang berada di dalam kamar bawah tanah.

Ibu Ra akhirnya menjual ladangnya untuk ditukarnya dengan hewan-hewan ternak untuk memenuhi kebutuhan makan Ri. Selain itu, Ibu Ra juga sudah tidak sempat mengurus ladang. Ibu Ra sudah disibukkan untuk mengurus ternak dan memberi makan Ri.

Ketika ayam sudah tidak dapat memenuhi rasa lapar dari Ri, maka kambing, domba dan akhirnya sapi adalah makanan yang selalu dimakan oleh Ri.

Setelah hampir semua ternak peliharaan Ibu Ra habis dimakan Ri, terpaksa Ibu Ra mencuri ternak milik tetangga. Agar tidak ketahuan pemilik ternak, Ibu Ra tidak hanya mencuri ternak penduduk desanya, akan tetapi juga mencuri ternak penduduk desa sebelah-sebelah. Ibu Ra selalu mencuri ternak untuk dimakan Ri keesokan harinya pada tengah malam setelah memberi makan Ri.

***

Suatu hari, hewan-hewan ternak yang dimiliki penduduk desa tempat tinggal Ibu Ra terkena wabah yang sangat mematikan. Ternak-ternak yang dimiliki penduduk desa satu-persatu mati, tak terkecuali ternak milik Ibu Ra yang disimpan untuk makan Ri. Ibu Ra harus mencuri ternak dari desa sebelah-sebelah. Akan tetapi wabah itu ternyata sangat dahsyat dan menyerang ternak-ternak desa sebelah.

Ternyata kedahsyatan wabah tersebut tidak hanya menyerang ternak, penduduk desa pun akhirnya ikut terkena wabah dan banyak yang meninggal dunia hingga kepala desa memerintahkan semua penduduk desa yang tersisa untuk mengungsi ke desa yang tidak terkena wabah.

Ibu Ra yang tidak dapat meninggalkan Ri tidak mau diajak tetangganya untuk mengungsi. Dia hanya memikirkan bagaimana nasib Ri. Apa yang akan dia makan jika sudah tidak ada lagi ternak yang hidup. Ibu Ra tidak tega memberikan makan Ri dengan ternak yang telah mati karena kena penyakit. Ibu Ra khawatir nanti Ri akan terkena penyakit dari ternak yang dimakannya.

Setiap kali merasa lapar, Ri akan berteriak-teriak mengeluarkan suara yang sangat berisik. sementara Ibu Ra merasa sangat kebingungan. Sekarang dia hanya tinggal sendiri di desa yang telah ditinggalkan penduduknya karena wabah yang telah menyebar. Ibu Ra juga sudah tidak dapat mencuri ternak dari desa sebelah karena ternak desa sebelah juga sudah habis, mati terkena wabah, bahkan desa sebelah mungkin juga sudah jadi desa mati karena ditinggal penduduknya.

Karena tidak tega dan tidak tahan mendengar teriakan Ri, akhirnya Ibu Ra memotong kaki kirinya untuk diberikan pada Ri. Esok harinya dia menyerahkan kaki kanannya, kemudian tangan kirinya dan terakhir tangan kanannya.

Setelah Ibu Ra sudah tidak mempunyai kedua kaki dan kedua tangan….

Ketika Ri berteriak-teriak karena lapar…. dengan susah payah Ibu Ra mendekati Ri….

Ri memeluk Ibu Ra dengan sangat erat… sangat erat….

Ri yang tidak pernah berkata-kata, tiba-tiba berkata….

“Ibu… tubuhmu sangat hangat sekali… aku rindu ibu…”

 

Surabaya, 31 Mei 2021

Leave a Reply